Di Bawah Lampu-Lampu Gantung: Malam yang Bernapas di Kuningan

Malam turun perlahan di sekitar Alun-alun Kuningan. Deretan lampu gantung membentang di atas jalan utama, memantulkan cahaya hangat ke aspal yang masih sibuk oleh roda-roda kendaraan. Motor melintas satu per satu, mobil bergerak pelan, sementara pejalan kaki menepi—semuanya membentuk irama kota kecil yang sedang hidup, bukan tergesa, tapi juga tak pernah benar-benar diam.

Lampu-lampu itu bukan sekadar hiasan. Ia menjadi penanda waktu, mengubah ruang yang siang hari terasa biasa menjadi panggung sosial setelah matahari terbenam. Warung-warung mulai ramai, obrolan muncul di pinggir jalan, dan kota menampilkan wajah santainya—wajah yang hanya muncul ketika malam memberi jarak dari rutinitas.

Kuningan, yang secara geografis bertetangga dekat dengan Cirebon, sering menjadi ruang lintasan: tempat singgah, tempat mampir, tempat bernapas sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Namun pada malam hari seperti ini, ia berdiri sebagai kota yang utuh. Jalanan tak lagi sekadar jalur kendaraan, melainkan ruang pertemuan—antara cahaya dan bayangan, antara warga lokal dan pelintas, antara diam dan gerak.

Di sudut-sudut trotoar, orang berhenti sejenak. Ada yang menunggu, ada yang sekadar melihat. Kota tidak berbicara keras, tapi ia menyampaikan sesuatu yang subtil: bahwa kehidupan kota bukan hanya soal bangunan dan lalu lintas, melainkan tentang bagaimana ruang publik memberi tempat bagi manusia untuk hadir apa adanya.

Malam di Kuningan mungkin tidak hingar, tapi ia jujur. Ia tidak berusaha memukau, hanya menemani. Dan dalam cahaya lampu-lampu gantung itu, tersimpan denyut wilayah yang saling terhubung—Kuningan dan Cirebon—dalam satu lanskap kehidupan yang sama.


Catatan Redaksi:

Artikel ini disajikan sebagai bagian dari rubrik Arsip & Memori, untuk merekam suasana ruang publik di wilayah sekitar Cirebon Raya sebagai jejak visual dan sosial kehidupan sehari-hari.