Di sebuah meja kayu sederhana, semangkuk es duren tersaji tanpa pretensi. Daging durian yang tebal bertumpuk di atas es serut, disiram susu dan gula merah, dikelilingi warna-warni pelengkap yang tampak biasa. Namun bagi warga Cirebon, momen ini bukan sekadar soal rasa. Ia adalah jeda. Sebuah ritual kecil untuk bernapas di tengah hari yang padat.
Dalam psikologi keseharian, makanan manis dan dingin sering berfungsi sebagai comfort object—pemicu rasa aman yang bekerja cepat. Es duren memenuhi peran itu dengan cara khas: aromanya kuat, rasanya tegas, dan sensasinya langsung. Sekali sendok, tubuh merespons; detak melambat, bahu turun, pikiran berhenti berlari. Bukan karena duriannya ajaib, melainkan karena otak mengenali momen “cukup”—cukup bekerja, cukup menahan, cukup tegang.
Warga Cirebon hidup di persimpangan: antara ritme kota pelabuhan yang dinamis dan tradisi yang akrab. Es duren hadir sebagai penyeimbang. Ia tidak dimakan terburu-buru. Sendok diangkat pelan, diletakkan lagi, diselingi obrolan singkat atau diam yang nyaman. Dalam diam itu, terjadi proses regulasi emosi yang sederhana namun efektif—pendinginan biologis sekaligus psikologis.
Ada pula dimensi memori. Aroma durian memanggil ingatan kolektif: sore selepas hujan, libur sekolah, atau tawa di warung pinggir jalan. Psikologi menyebutnya associative recall—ketika rasa mengaktifkan kenangan, dan kenangan menenangkan. Karena itulah es duren sering terasa “lebih enak” saat dimakan bersama, atau di tempat yang familiar.
Menariknya, pilihan ini juga mencerminkan nilai lokal: kesederhanaan yang fungsional. Tak perlu ruang sunyi atau teknik rumit. Cukup semangkuk es duren, meja kayu, dan waktu lima menit. Di sanalah warga Cirebon merawat diri—tanpa istilah besar, tanpa slogan, hanya praktik kecil yang konsisten.
Maka, ketika kita melihat es duren dalam bingkai Psikologi Warga Cirebon, kita sedang menyaksikan strategi bertahan yang lembut. Cara masyarakat menata ulang emosi, menyegarkan pikiran, dan melanjutkan hari—sendok demi sendok.