Sinar matahari sore menyelinap di antara batang-batang pohon tua yang menaungi kawasan Bima. Cahayanya jatuh miring, memantul pada dedaunan, tenda-tenda kecil, dan wajah-wajah yang berjalan santai menikmati akhir pekan.
Di tepi jalan, sebuah lapak sederhana berdiri di bawah terpal yang mulai memudar warnanya. Boneka warna-warni bergantung pada tiang bambu. Di bawahnya, kantong-kantong plastik berisi ikan hias bergoyang pelan tertiup angin. Air di dalamnya berkilau diterpa cahaya senja, membuat ikan-ikan kecil itu tampak seperti serpihan warna yang hidup.
Beberapa anak berhenti.
Mata mereka menempel pada kantong-kantong plastik yang berjajar di depan lapak. Sesekali mereka menunjuk, lalu menoleh kepada orang tuanya. Tak jauh dari situ, seorang pedagang jongkok di samping dagangannya, merapikan kantong demi kantong dengan gerakan yang sudah berulang entah berapa kali setiap akhir pekan.
Di kawasan Bima, sore seperti ini telah menjadi bagian dari kehidupan kota.
Warga datang dari berbagai penjuru Cirebon. Ada yang berjalan kaki mengelilingi jalur rindang, ada yang duduk bersama keluarga di bawah pohon, ada yang sekadar menikmati udara sore yang terasa lebih ramah dibanding panas siang hari.
Di sela keramaian itu, ekonomi rakyat ikut bergerak.
Lapak mainan, jajanan, minuman dingin, hingga ikan hias kecil yang dijual beberapa ribu rupiah menjadi bagian dari pemandangan yang tak terpisahkan. Tidak besar. Tidak mewah. Namun cukup untuk menghidupkan hari bagi banyak orang.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa. Aroma jajanan yang baru dimasak sesekali terbawa angin. Di bawah naungan pohon-pohon tua yang telah lama menjadi peneduh kawasan ini, warga Cirebon menikmati sore dengan cara yang sederhana.
Matahari perlahan turun di balik rimbun dedaunan.
Cahaya keemasannya semakin lembut.
Keramaian tetap berjalan, namun tanpa tergesa.
Dan di antara langkah-langkah kecil itu, seorang anak masih berdiri memandangi ikan dalam kantong plastik, seolah menemukan dunia kecilnya sendiri.
Mungkin itulah yang membuat sore di Bima selalu terasa akrab.
Bukan karena keramaiannya.
Bukan karena dagangannya.
Melainkan karena di tempat seperti inilah Cirebon memperlihatkan wajahnya yang paling sederhana—warga yang bertemu, anak-anak yang bermain, dan kehidupan yang berjalan pelan di bawah pohon-pohon tua yang setia menjaga kota.