Menunggu Pagi di Ujung Gerobak

Pagi belum terlalu ramai ketika gerobak itu sudah lebih dulu menempati tempatnya.

Di bawah payung putih yang mulai kusam dimakan matahari dan hujan, potongan semangka merah dan nanas kuning tersusun rapi menghadap jalan. Warnanya mencolok di antara aspal gelap dan dedaunan kering yang berserakan di tepi kawasan Bima.

Pemilik gerobak berdiri diam di sampingnya. Sesekali menatap orang-orang yang berjalan lewat.

Sebagian baru selesai berolahraga. Sebagian datang bersama keluarga. Sebagian lagi hanya berjalan santai menikmati udara pagi yang masih menyimpan kesejukan malam.

Belum banyak yang membeli. Tapi pagi memang selalu dimulai dengan menunggu.

Di kawasan Bima, pemandangan seperti ini sudah menjadi bagian dari akhir pekan. Bersama para pedagang minuman, penjual mainan, dan lapak-lapak kecil lainnya, gerobak buah itu ikut mengisi pagi warga Cirebon.

Tak ada spanduk besar. Tak ada pengeras suara. Hanya potongan buah yang segar, sebuah payung tua, dan kesabaran yang datang lebih pagi daripada pembeli pertama.

Matahari perlahan naik di balik pepohonan. Cahaya mulai menyentuh potongan semangka yang berkilau terkena embun. Di kejauhan, langkah kaki semakin ramai. Suara obrolan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan.

Hari mulai bergerak.

Dan seperti banyak akhir pekan sebelumnya, kehidupan kecil itu kembali berlangsung di tepi jalan.

Sederhana. Tetapi selalu ada.

Karena di kota seperti Cirebon, cerita tidak selalu lahir dari tempat-tempat besar. Kadang ia tumbuh diam-diam dari sebuah gerobak buah yang setia menunggu pagi.