Di banyak sudut Cirebon, pagi sering dimulai dari sepiring Sega Lengko. Nasi hangat disiram saus kacang, lalu dipadukan dengan tahu, tempe, tauge, mentimun, daun kucai, dan taburan bawang goreng. Tak ada daging mewah. Tak ada bumbu yang berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah cita rasanya tumbuh.
Konon, Sega Lengko lahir dari kehidupan masyarakat yang akrab dengan hasil bumi. Bahan-bahannya mudah ditemukan, harganya terjangkau, tetapi mampu menghadirkan rasa yang utuh. Gurih, segar, manis, dan sedikit pedas berpadu dalam satu piring yang mengenyangkan tanpa membuat kantong keberatan.
Mungkin itulah sebabnya Sega Lengko tetap bertahan di tengah gempuran berbagai kuliner modern.
Ia tidak mencoba menjadi istimewa.
Ia hanya setia menjadi dirinya sendiri.
Di balik sepiring Sega Lengko tersimpan filosofi yang sederhana: kehidupan tak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal untuk terasa cukup. Seperti masyarakat Cirebon yang sejak lama hidup dari semangat berdagang, bertani, dan melaut, makanan ini mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali lahir dari hal-hal yang paling bersahaja.
Hari ini, Sega Lengko masih mudah ditemukan, dari warung kecil di pinggir jalan hingga rumah makan yang telah berdiri puluhan tahun. Setiap piring yang tersaji bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga ingatan tentang kota yang tumbuh dari kesederhanaan.
Karena di Cirebon, Sega Lengko bukan sekadar makanan.
Ia adalah cara sebuah kota merayakan rasa cukup.