Sore mulai turun ketika halaman Balai Desa Gombang perlahan dipenuhi warga. Cahaya matahari yang menghangat berubah menjadi semburat keemasan, menyapu pelataran desa, kursi-kursi yang telah tersusun rapi, serta wajah-wajah yang datang membawa harapan akan sebuah pertemuan baru.
Di depan balai desa, mahasiswa berjaket almamater berdiri menyambut setiap tamu yang hadir. Camat, perangkat desa, para Ketua RT dan RW, Ketua DKM, hingga tokoh masyarakat datang bergantian. Jabat tangan, senyum, dan sapaan hangat mengalir tanpa sekat, menghadirkan suasana yang lebih menyerupai pertemuan keluarga daripada sebuah acara seremonial.
Di Desa Gombang, sore itu menjadi penanda dimulainya perjalanan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tahun 2026.
Bukan sekadar agenda akademik, melainkan awal dari perjumpaan antara mahasiswa dengan kehidupan desa yang akan mereka kenal lebih dekat dalam beberapa pekan ke depan.
Di balik acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna itu, ada kerja sama yang telah dipersiapkan sejak jauh hari. Ahmad Triyanto bersama Silvana Abellya memimpin jalannya kelompok KPM, didukung Hafida Triyana yang memastikan setiap administrasi berjalan tertib, serta Aisyah yang mengelola kebutuhan kelompok selama masa pengabdian.
Kesuksesan pembukaan sore itu juga lahir dari banyak tangan yang bekerja tanpa banyak terlihat. Indri dan Nadhiva Nur Fauziah Azaiima membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Diyah Cahyani bersama Herlinda Setyaningsih menyiapkan setiap rangkaian acara agar berjalan lancar. Momen-momen kebersamaan diabadikan oleh Ni’ma Annadzira Annuri, Khonsa Alfauziyyah, dan Anisah Marseela, sementara kebutuhan perlengkapan ditangani Yusuf Maulana bersama Bintang Satria. Kehangatan suasana pun terasa semakin lengkap berkat sajian yang disiapkan Salwa Nabilah dan Alya.
Namun ketika sambutan usai dan matahari semakin condong ke barat, sesungguhnya perjalanan itu baru saja dimulai.
Dalam beberapa hari ke depan, para mahasiswa tidak lagi hanya berada di balai desa. Mereka akan menyusuri gang-gang kecil, menyapa warga dari rumah ke rumah, mendengarkan cerita para petani, pelaku UMKM, anak-anak, hingga para sesepuh desa yang selama ini menjadi penjaga nilai dan tradisi.
Sebab pengabdian tidak pernah lahir dari ruang pertemuan.
Ia tumbuh dari kedekatan.
Dari kesediaan untuk mendengar sebelum berbicara.
Dari kemauan untuk belajar sebelum memberi.
Senja di Desa Gombang akhirnya menutup acara pembukaan itu dengan langit yang perlahan berubah jingga. Warga kembali ke rumah masing-masing, begitu pula para mahasiswa yang kini membawa amanah baru di pundaknya.
Karena pada akhirnya, pengabdian bukan tentang seberapa banyak program yang dijalankan.
Melainkan tentang seberapa tulus seseorang hadir, menjadi bagian dari masyarakat, dan meninggalkan jejak yang baik di tempat yang telah menerimanya seperti keluarga sendiri.