Matahari mulai condong ketika cahaya keemasan jatuh di sisi gerobak kecil itu. Di bawah papan merah bertuliskan Tusukan Serba 2000, aneka sate berjajar menunggu pembeli. Seorang penjual berdiri di sampingnya, tangannya sibuk menyiapkan dagangan untuk orang-orang yang mungkin sebentar lagi berhenti.
Di belakangnya, kendaraan terus melintas.
Cirebon tetap bergerak seperti biasa.
Tetapi di pinggir jalan, sebuah gerobak sederhana sedang menjalankan cerita lain. Cerita tentang makanan yang tidak perlu mahal untuk bisa dinikmati. Cukup dua ribuan, orang sudah bisa memilih beberapa tusuk untuk menemani perjalanan pulang, mengganjal perut, atau sekadar memuaskan keinginan makan sesuatu setelah seharian beraktivitas.
Gerobak seperti ini mudah ditemukan di banyak sudut kota. Bentuknya sederhana, menempati ruang yang tidak terlalu besar, tetapi punya pelanggan sendiri.
Ada yang datang karena sudah mengenal rasanya. Ada yang berhenti karena mencium aroma bakaran. Ada pula yang awalnya hanya lewat, kemudian mendadak berubah pikiran ketika melihat deretan tusukan di balik kaca.
Begitulah kehidupan kuliner jalanan.
Ia tidak selalu membutuhkan papan nama besar atau ruangan berpendingin. Kadang cukup sebuah gerobak, kompor kecil, bahan dagangan yang tertata, dan seorang penjual yang setia menunggu sampai malam.
Di Cirebon, keberadaan pedagang seperti ini menjadi bagian dari wajah kota. Mereka ikut mengisi jalan, ikut menghidupkan sudut-sudut yang mungkin akan terasa sepi jika tidak ada aktivitas jual beli.
Dan menariknya, harga murah bukan berarti ceritanya kecil.
Di balik setiap tusukan yang terjual ada biaya sekolah, kebutuhan rumah, belanja esok hari, dan kehidupan keluarga yang terus berjalan. Dua ribu rupiah bagi pembeli mungkin hanya uang receh yang berpindah tangan. Tetapi bagi pedagang, jika dikumpulkan dari satu pembeli ke pembeli berikutnya, ia menjadi bagian dari penghasilan hari itu.
Menjelang matahari benar-benar tenggelam, lampu jalan mulai mengambil alih cahaya sore.
Gerobak itu masih di sana.
Tusukan masih berjajar.
Dan Cirebon masih memiliki satu lagi cerita kecil tentang bagaimana sebuah kota bertahan dan bergerak—bukan hanya melalui gedung-gedung besar dan pusat perdagangan, tetapi juga melalui gerobak sederhana di pinggir jalan, tempat orang membeli makanan dengan uang yang mungkin hanya tersisa beberapa ribu rupiah.
Serba dua ribu.
Sederhana harganya.
Panjang ceritanya.