
Seputar Cirebon — Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan program Sekolah Rakyat di 100 titik di seluruh Indonesia. Inisiatif ini dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, yang selama ini sulit mengakses pendidikan berkualitas.
Berbeda dari sekolah umum, Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama penuh, di mana anak tinggal dan belajar dalam satu lingkungan yang terintegrasi. Siswa dipilih langsung oleh pemerintah berdasarkan data keluarga di DTSEN (Data Terpadu Sosial Ekstrem Nasional), bukan melalui proses pendaftaran mandiri.
Menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, program ini merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. “Target kita adalah anak-anak yang sudah atau berpotensi putus sekolah,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Sebelum belajar, siswa menjalani tes berbasis AI untuk mengidentifikasi potensi dan gaya belajar mereka. Hasil tes menjadi dasar untuk menyusun kelompok belajar dan pendekatan pengajaran yang lebih sesuai. Dalam praktiknya, kegiatan belajar tidak melulu berbasis buku, tapi juga diskusi, praktik langsung, dan aktivitas kreatif.
Kurikulum Sekolah Rakyat tetap merujuk pada standar nasional, namun dikemas dengan pendekatan deep learning yang mendalam dan bermakna. Dengan jumlah siswa lebih sedikit per kelas, guru dapat memberikan perhatian lebih pada perkembangan karakter dan keterampilan hidup siswa.
Selain akademik, Sekolah Rakyat juga menekankan pembinaan spiritual, kepemimpinan, dan keterampilan sosial. Semua biaya ditanggung pemerintah, termasuk seragam, buku, makan, dan tempat tinggal. Hal ini menjadi pembeda utama dengan sekolah umum yang biayanya ditanggung keluarga dan bersifat non-asrama.
Jika diterapkan secara konsisten dan diperluas, model ini berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk pendidikan inklusif di Indonesia.