
Di jalanan aspal yang mulai mendingin, lampu-lampu kota menyala satu per satu, seperti lentera kecil yang menyambut malam. Di atasnya, langit di kota Rest Area Kota Ngawi melukis dirinya sendiri—warna biru gelap dan jingga membelah cakrawala, diwarnai awan yang berarak seperti puing-puing dari hari yang sedang runtuh perlahan.
Tegak berdiri menantang cakrawala, tiang listrik dan menara beton menjadi saksi diam—bahwa bahkan di tengah geliat peradaban, langit tetap memegang kendali. Kabel-kabel membentang seperti garis waktu, menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan kota ini.
Di sisi kanan, bangunan modern dengan desain futuristik mencuat dari tanah, memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai membentuk suasana magis. Kendaraan terparkir tenang di tepi jalan, seolah berhenti sejenak untuk ikut mengagumi momen langka ini—senja yang tak terburu-buru, tak ingin pergi.
Sebuah pengingat lembut bahwa di balik infrastruktur dan mobilitas, alam tetap jadi narator utama yang tak pernah kehilangan bahasa.