Skip to content

Seputar Cirebon – CRBNTV

Portal Berita & Informasi Cirebon Lengkap

cropped-Black-Yellow-White-Green-Red-Business-Digital-Marketing-Professional-Youtube-Channel-Art-Banner.jpg
Primary Menu
  • Beranda
  • Kategori
    • Worldnews
    • Nasional
    • Seputar Cirebon
    • Highlight
    • Dakwah
    • Kriminal
    • Life Style
    • Kuliner
    • Pendidikan
    • Politik
    • Technology
    • Travel
    • Video
    • Cerita Pendek
    • Foto
    • Loker
  • Tentang Kami
  • Promosi dan Kerjasama
  • Loker

Home » Senyum di Balik Pagar Pondok Pesantren TJI

  • Cerita Pendek

Senyum di Balik Pagar Pondok Pesantren TJI

Seputar Cirebon News June 15, 2025 3 min read
A little girl with a sad look behind a metal fence. Social problem of refugees and forced migrants

A little girl with a sad look behind a metal fence. Social problem of refugees and forced migrants.

Di Pondok Pesantren Tji, waktu berjalan dengan cara yang aneh. Pagi terasa begitu panjang, siang seolah berat menurunkan matahari, dan malam, ah, malam di sini sering kali datang terlalu cepat — secepat rasa rindu yang muncul tanpa permisi.

Namaku Hilmi. Santri kelas dua di Tji, sebuah pondok pesantren tua di pinggir kota, yang bangunannya sudah lapuk di sana-sini, tapi entah mengapa, tetap kokoh di hati kami. Gerbang kayunya yang berderit jika dibuka, halaman penuh batu kerikil, dan suara azan subuh dari mushala kecil di sudut timur pondok — semuanya seperti lukisan hidup yang tak pernah pudar.

Di pondok ini, setiap anak punya ceritanya masing-masing. Ada Fajar, si pemberani yang diam-diam takut hantu. Ada Karim, yang selalu menjadi juara dalam lomba hafalan, tapi tak pernah menang dalam permainan gobak sodor. Dan ada aku, anak kampung yang masih belajar cara menguatkan hati saat surat dari rumah tak kunjung datang.

Aku ingat pertama kali masuk Tji. Wajah-wajah asing menatap dari balik jendela kamar, udara sore yang membawa bau wangi kayu bakar, dan suara ustaz Farhan yang mengumandangkan iqamah magrib. Aku tidak menangis waktu itu, tapi dada ini kosong seperti sumur kering di musim kemarau.

Hari-hari di Tji diisi dengan jadwal yang tak pernah kompromi. Bangun pukul 04.00 subuh, salat berjamaah, lalu mengaji hingga matahari muncul malu-malu di ufuk timur. Pelajaran pagi dimulai pukul 07.00, makan seadanya, lalu lanjut sekolah hingga siang. Sore adalah waktu paling dinanti — bukan karena lepas dari pelajaran, tapi karena saat itulah kami bisa duduk di pelataran pondok, berbagi cerita, atau sekadar menatap langit yang entah mengapa, di sini selalu lebih biru.

Aku dan Fajar biasa duduk di dekat pagar belakang pondok. Di sana ada pohon jambu biji tua yang daunnya rimbun. Tempat sempurna untuk mengendap kabur dari jadwal piket atau pura-pura menghafal saat sebenarnya sedang bermain kelereng.

“Di Tji ini, yang kuat bukan yang pintar,” kata Fajar suatu sore. “Tapi yang bisa tahan saat rindu datang tiba-tiba.”

Aku hanya tertawa. Tapi sebenarnya aku paham maksudnya.

Karena di pondok, rindu itu seperti angin. Kau tak bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakannya menyelinap lewat jendela kamar, lewat suara adzan magrib, lewat bau tanah basah selepas hujan, dan lewat mimpi tentang rumah.

Pernah, malam-malam aku duduk sendiri di mushala, membaca surat-surat lama yang kukumpulkan dalam kotak kecil di bawah ranjang. Surat dari Ibu, dari Bapak, dari adik yang baru bisa menulis huruf miring-miring. Kadang aku menangis diam-diam. Bukan karena lemah, tapi karena di pondok ini, tidak ada siapa-siapa yang bisa memeluk saat kau butuh.

Tapi justru dari sanalah aku belajar tentang kuat. Tentang cara menahan air mata, tentang menyimpan rindu dalam doa, tentang memeluk sepi seperti sahabat lama.

Pondok Pesantren Tji mungkin tidak besar. Dindingnya banyak bercak, pintu kamarnya berderit, dan kamar mandi umumnya kadang mampet. Tapi di sinilah aku belajar tentang hidup.

Tentang bagaimana memaafkan teman yang menyembunyikan sandal saat waktu subuh. Tentang berbagi nasi goreng yang porsinya hanya setengah piring. Tentang sabar menunggu giliran mandi saat air tiba-tiba mati. Tentang diam-diam mendoakan teman yang besok ikut lomba pidato.

Dan tentang persahabatan yang tak diikat janji, tapi cukup dengan sepotong senyum di balik pagar Tji, saat senja mulai jatuh.

Aku yakin, suatu saat nanti saat aku sudah tua, nama-nama itu akan tetap tinggal di hatiku. Fajar, Karim, Ustaz Farhan, juga Pondok Pesantren Tji yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu sederhana.

Cukup bisa tertawa meski perut lapar.

Cukup bisa salat subuh berjamaah meski mata lengket.

Cukup bisa memejamkan mata di malam yang sunyi, sembari bisikkan satu doa sederhana.


Amelia – TJI

Seputar Cirebon News
Author: Seputar Cirebon News

About the Author

Seputar Cirebon News

Administrator

Visit Website View All Posts

Related posts:

  1. Di Balik Sebuah Perjalanan, Ada Ketekunan yang Membawa Sampai
  2. Satu Ekor Kambing di Langit
  3. Hari Ketika Langit Tidak Menertawakanku
  4. Surat untuk Langit
Tags: Cerpen

Post navigation

Previous: Langit Tak Selalu Biru di Pondok Itu
Next: Senja di Atas Menara

Related Stories

62air-hujan-basah-
1 min read
  • Cerita Pendek

Senja yang Basah oleh Namamu

Seputar Cirebon News August 20, 2025
1498737473770
1 min read
  • Cerita Pendek

Takdir yang Tak Menyebut Namaku

Seputar Cirebon News June 25, 2025
3623353247
4 min read
  • Cerita Pendek

Nenek dan Rasi Bintang Kita

Seputar Cirebon News June 15, 2025

Kolom Kartun Cak Cuk

ChatGPT Image Aug 29, 2025, 07_35_23 PM

IT Course Provider

Financial Planning Services (1)

Jasa Konsultan IT

Financial Planning Services

Penetration Testing

Financial Planning Services

Trending News Seputar Cirebon

Tujuh Polisi yang Melindas Pengemudi Ojol Terbukti Melanggar Kode Etik CRBN - 2025-08-29T175154.760 1
  • Highlight
  • Nasional

Tujuh Polisi yang Melindas Pengemudi Ojol Terbukti Melanggar Kode Etik

August 29, 2025
Kapolri Respons Permintaan Ambil Alih Kasus Arya Daru CRBN (49) 2
  • Nasional

Kapolri Respons Permintaan Ambil Alih Kasus Arya Daru

August 28, 2025
Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI Merupakan Seorang Motivator Copilot_20250826_085919 3
  • Nasional

Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI Merupakan Seorang Motivator

August 26, 2025
Kritik Untuk Diri Sendiri Bisa Berbahaya ChatGPT Image Aug 26, 2025, 08_09_24 AM 4
  • Psikologi Corner

Kritik Untuk Diri Sendiri Bisa Berbahaya

August 26, 2025
Health Talk: Belajar Kesehatan Reproduksi di Era Modern WhatsApp Image 2025-08-23 at 18.59.12 5
  • Seputar Cirebon

Health Talk: Belajar Kesehatan Reproduksi di Era Modern

August 23, 2025

Arsip Seputar Cirebon

You may have missed

CRBN - 2025-08-29T175154.760
2 min read
  • Highlight
  • Nasional

Tujuh Polisi yang Melindas Pengemudi Ojol Terbukti Melanggar Kode Etik

Seputar Cirebon News August 29, 2025
CRBN (49)
1 min read
  • Nasional

Kapolri Respons Permintaan Ambil Alih Kasus Arya Daru

Seputar Cirebon News August 28, 2025
Copilot_20250826_085919
1 min read
  • Nasional

Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI Merupakan Seorang Motivator

Seputar Cirebon News August 26, 2025
ChatGPT Image Aug 26, 2025, 08_09_24 AM
1 min read
  • Psikologi Corner

Kritik Untuk Diri Sendiri Bisa Berbahaya

Seputar Cirebon News August 26, 2025

Donasi Untuk Sekolah Digital TJI

TJI

Supported By

javanovate2-removebg-preview

C | News Stream – Media Bercerita

stream (1)

Promosi Usaha Anda Disini

Financial Planning Services (4)
Copyright Seputar Cirebon © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.